Da Nang

Kota-Da-Nang

Vietnam, siapa pun hampir pasti teringat pada sejarah masa lalu negeri itu, yaitu Perang Vietnam (November 1955 sampai April 1975) yang sangat kelam dan masih terus menjadi ide untuk pembuatan film-film perang hingga saat ini. Perang Vietnam membelah negeri itu menjadi dua kekuatan utama, yaitu Vietnam utara yang berhaluan komunis dan Vietnam selatan yang mengarah ke demokratis dan didukung oleh AS. Perang menjadikan Da Nang, yang saat itu merupakan sebuah kota pelabuhan penting di tengah Vietnam, sebagai basis pangkalan udara yagn digunakan oleh pasukanh Vietnam Selatan dan juga pasukan AS selama perang Vietnam.

Di masa perang Vietnam itu, pangkalan udara Da Nang bahkan dianggap sebagai salah satu pangkalan udara tersibuk di dunia dengan rata-rata 2.595 lalu lintas penerbangan tiap hari, atau lebih padat dibandingkan bandar udara di mana pun saat itu.

setelah AS memutuskan mundur dari Perang Vietnam, Da Nang akhirnya jatuh ke tangan kekuatan Vietnam Utara pada 30 Maret 1975. Akan tetapi, jika Anda berkunjung ke Da Nang saat ini, nyaris tidak terlihat lagi sisa-sisa masa perang lebih dari empat dekade lalu itu.

Da-Nang

Da Nang saat ini adalah kota terbesar ketiga di tengah Vietnam dan pelabuhan serta kawasan pariwisata penting bagi Vietnam. Posisinya yang dikelilingi pegunungan, kepanjangan dari pegunungan Annamese (Indochina) di satu sisi dan laut China Selatan di sisi lain, dengan pasir putih yang halus dan bersih seperti kristal, serta bukit-bukit marmer di sejumlah tempat, menjadikan wilayah ini sebagai salah satu produsen batu pualam yang sangat kaya. Tidak mengherankan apabila Anda menjumpai banyak ukiran batu pualam dijual di seputar Da Nang, mulai dari ukuran kecil sampai patung Dewi Kwan Im atau Sidharta Buddha Gautama yang berukuran tinggi 2 m.

Sebagai kota modern, Da Nang merupakan percampuran dari berbagai konsep perkotaan di dunia.

Hotel-hotel di kawasan pantainya tidak banyak berbeda dengan hotel-hotel di kawasan Nusa Dua, Bali. Sementara tempat hiburannya dibuat sedemikian rupa agak menyerupai Singapura, dengan ferris wheel (kincir raksasa) sebagai salah satu symbol kota itu.

ferris-wheel

Bahkan salah satu kawasan wisata terpopuler di pinggiran Da Nang, yaitu Ba Na Hills, merupakan perpaduan dari sekaligus dua tempat wisata di Malaysia, yaitu Genting Highland dan perkampungan Perancis Colmar Tropicale.

Pesona Ba Na Hills

Tidak mengherankan apabila perkembangan pesat kota dengan luasa 1.285,4 km² dan berpenduduk sekitar 1,05 juta jiwa itu kemudian membuat pengunjung tidak merasakan lagi kesan “seram” dari peninggalan Perang Vietnam dulu. Adanya berbagai fasilitas hotel berbintang pantas menjadikan Da Nang sebagai tempat perhelatan pertemuan KTT APEC pada November 2017 mendatang.

Ba-Na-Hills

Sebagai sebuah kota modern, Da Nang terus dibangun menjadi temapt wisata andalan bagi Vietnam. Selain pantainya juga bisa menikmati suasana malam di desa tua Hoi An, yang berabada lalu dikenal sebagai pelabuhan penting di tengah Vietnam. Lampion yang menerangi bangunan-bangunan tua dipinggiran sungai menjadikan kehidupan malam di Hoi An sebagai salahs atu magnet untuk wisatawan, khususnya wisatawan yang memang menggemari hang-out di bar-bar atau kafe.

Pasar malam di Hoi An juga menjadi tempat yang menarik untuk berbelanja souvenir meski wisatawan harus pintar-pintar menawar karena harga yang ditawarkan sering kali malah lebih mahal dari harga yang ditawarkan di pertokoan kota Da Nang.

Mereka yang menyukai pemandangan alam dan arsitektur bangunan bersejarah akan cukup terpuaskan apabila berkunjung ke Ba Na Hills. Obyek wisata buatan yang berada sekitar 30 km di pinggiran Da Nang ini menjadi semacam “Disneyland” bagi Da Nang. Kompleks Ba Na Hills ini dibangun pertama kali oleh penjajah Peancis pada 1919, tetapi baru sekitar 4 tahun lalu investor besar masuk dan membangun Ba Na Hills hingga menjadi semegah sekarang ini.

Kereta-Gantung-Da-Nang

Lokasinya yang berada di ketinggian 1.487 mdpl menjadikan suhu udara di Ba Na Hills selalu jauh lebih dingin dibandingkan wilayah Da Nang lainnya. Anda akan bisa merasakan langsung perbedaannya saat pertama kali naik ke kereta gantung (cable car), khususnya ketika kereta gantung itu sudah melalui setengah rute perjalanannya dengan jarak total 5 km.

Perjalnan di kereta gantung itu pun membeirkan sensasi tersendiri karena naik sangat tajam saat menuju Ba Na Hills dan menurun curam saat meninggalkan Ba Na Hills. Kabut yang kerap turn membuat perjalanan di atas kereta gantung itu pun semakin menegangkan karena kita tidak bisa melihat kondisi di sekeliling kita. Turunan yang curam itu juga kerap membuat kereta terayun-ayun, membuat detak jantung menjadi lebih cepat.

Dengan tiket masuk 650.000 Vietnam Dong atau sekitar 38USD, para wisatawan bisa menghabiskan waktu sehari penuh di Ba Na Hills. Gerbang masuknya yang dibuat mirip banteng kota terlarang di China sangat menarik untuk berfoto-foto. Sebelum sampai di puncak Ba Na Hills, wisatawan harus menggunakan kereta gantung. Di puncak setelah turun dari kereta gantung, kita akan menemukan kompleks perkampungan Perancis dengan beberapa bangunan tua Eropa pada abad pertengahan, pagoda, dan juga menara padang di bagian atas. Di bagian lain Ba Na Hills juga teradpat komples taman bunga, yang terdiri dari Sembilan taman, antara lain Love Garden, Mistery Garden, Legendary Garden, Heaven Garden, Sacred Garden, Memory Garden.

Obyek wisata lain yang tak kalah menarik di Da Nang adalah Taman Nasional Son Tra (Monyet) yang berada di Semenanjung Son Tra. Bukti Monyet ini merupakan salah satu pos pengawasan penting semasa perang Vietnam. Di sini juga terapat sebuah patung Dewi Kwan Im dengan tinggi 67 m yang berada di kompleks pagoda Linh Ung. Patung itulah yang bisa dilihat dari kawsan pantai kota Da Nang sehingga menjadi salah satu “ikon” di kota itu.

Selain obyek-obyek wisatnaya, Da Nang juga menawarkan berbagai hidangan seafood yang bisa membuat penikmatnya lupa diri. Udang, ikan, kepiting, dan kerang berbagai ukuran sangat menggoda, penyuka seafood. Akan tatapi, siap-siaplah untuk mengeluarkan uang lebih banyak karena hidangan seafood di Da Nang tidaklah murah dibandingakn dengan sajian serupa di Jimbaran, Bali, misalnya.

Dengan berbagai gambaran di atas, memang nayris tidak ada lagi sisa-sisa Perang Vietnam dulu. Sisa-sisa dan berbagai dokumentasi perang itu hanya bisa ditemui di museum. Da Nang sekarang nayris tidak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara.