Destinasi Wisata di Taman Gunung Palung

Destinasi Wisata di Taman Gunung Palung

Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan sebuah taman nasional yang terletak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sekitar 30 menit penerbangan dari Pontianak. Luas taman nasional ini adalah 90.000 hektar, yang terbentang di 6 Kecamatan, yaitu: Simpang Hilir, Simpang Hulu, Sei Laur, Sukadana, Matan Hilir Utara, dan Sandai.

Kawasan ini memiliki kontur yang bergunung dengan perbedaan elevasi yang cukup tajam dari 0 m dpl (untuk tipe hutan Mangrove) hingga 1.700 m dpl (untuk tipe hutan dataran tinggi atau pegunungan). Jenis tanah yang ada pun bervariasi dari Podsolik Merah Kuning, Podsol, Aluvial, Gambut dan bebatuan jenis Granit dan Sandstone. Di tengah kawasan ini terdapat dua buah gunung, yaitu Gunung Palung dan Gunung Panti. Selain itu, kawasan ini merupakan pusat aliran sungai dari beberapa sungai di pantai barat dan selatan Kalimantan Barat, yang meliputi tiga DAS (Daerah Aliran Sungai ) yaitu DAS Simpang, DAS Pawan dan DAS Tulak.

TNGP mempunyai ekosistem yang dikatakan sebagai yang terlengkap di antara taman-taman nasional di Indonesia. Di kawasannya terdapat Gunung Palung yang mempunyai ketinggian 1.116 meter. Selain itu, TNGP juga adalah habitat bagi sekira 2.200 ekor orangutan. Bekantan adalah mamalia dengan jumlah terbesar di TNGP.

Informasi Sejarah Taman Nasional Gunung Palung

Upaya mengenalkan arti penting kekayaan hayati dan spesies di Gunung Palung sudah dilakulkan sejak dahulu. Pada masa kolonial, pemerintah Belanda telah menetapkan secara resmi areal seluas 30.000 hektar yang meliputi Gunung Palung dan Gunung Panti sebagai kawasan lindung.

Selanjutnya, pemerintah Indonesia tetap pula mempertahankan status konservasi kawasan dan mengikuti sistem perlindungan kawasan lindung yang ada. Setelah Indonesia merdeka, kawasan tersebut diklasifikasikan sebagai kawasan cagar alam dengan maksud melindungi ekosistem alam dan keberagaman flora dan fauna yang ada.

Pada tahun 1979, Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang saat itu baru terbentuk mengajukan usulan untuk memperluas kawasan menjadi 90.000 hektar. Agar dapat melingkupi kawasan dataran rendah, rawa dan dataran sedang di sekitar Sukadana. Pada tahun 1990, status kawasan tersebut berubah kembali menjadi Taman Nasional. Walaupun dengan status yang demikian, karakteristik dan keunikan TNGP tetap mendapat tantangan yang cukup berat, dimana keamanan dan usaha perlindungan yang dapat menjaminkan kelestariannya masih memerlukan waktu yang cukup panjang.

Flora yang ada di Taman Nasional Gunung Palung

Pulau Kalimantan merupakan sebuah pusat keanekaragaman tumbuhan. Di pulau ini terdapat 10.000 – 15.000 spesies tanaman bunga. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut setara dengan total jumlah flora di seantero Benua Afrika, yang memiliki luas 40 kali lebih besar.

Sedikitnya 2.000 spesies anggrek dan 1.000 spesies paku-pakuan dapat dijumpai pula di pulau ini, termasuk diantaranya tanaman spektakuler pemakan serangga, Kantong Semar (Nepenthes). Jumlah tumbuhan endemiknya juga sangat tinggi, dengan hampir 34% dari seluruh tanaman hanya dapat dijumpai di pulau ini. lni berarti tanaman tersebut tidak dapat dijumpai di tempat lain di muka bumi, selain Kalimantan.

Sebagai perbandingan, hanya 12% dari tanaman dan hewan yang merupakan endemik bagi pulau Sumatera. Dari habitat pegunungan hingga hutan mangrove di pantai, TNGP rnerupakan tempat yang luas bagi varietas yang sangat beragam. Walaupun data yang komperhensif dari jumlah flora yang ada masih belum tersedia, diperkirakan lebih dari 3,500 spesies tanaman kayu tumbuh di sini. Jumlah ini belum termasuk tanaman non kayu, seperti paku-pakuan, lumut-lumutan dan tanaman efifit, yang juga sangat banyak dapat dijumpai di dalam taman nasional.

Tumbuhan dan Suksesi Hutan Tumbuhan merupakan biomassa yang dominan bagi seluruh ekosistem di Gunung Palung. Lebih dari 450 spesies tumbuhan dijumpai di TNGP, termasuk diantaranya pohon-pohon berkanopi lebar seperti Shorea, Dipterocarpus, Koompasia yang ketinggiannya bisa mencapai lebih dari 60m. Seluruh ekosistem hutan dalam kondisi yang dinamis, dengan kata lain terjadi perubahan secara konstan. Pepohonan akan berkembang, mati atau tumbang. Ketika satu pohon mati, akan terbentuk sebuah ruang kosong dalam kanopi hutan, tersedialah jalan untuk cahaya matahari dan membuka ruang bagi tumbuhnya pohon-pohon baru.