Informai Wisata di Desa Long Bawan

Informai Wisata di Desa Long Bawan

Long Bawan adalah salah satu daerah perbatasan di utara Kalimantan. Long Bawan merupakan desa sekaligus ibukota dari Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Lokasinya berada di belantara Kalimantan, tepatnya di dataran tinggi tempat suku Dayak Krayan bermukim. Meski terletak di dataran tinggi, tetapi kontur tanah cukup datar, cocok untuk bertani dan berternak.

Daerah Long Bawan tergolong daerah terisolir, pasalnya akses menuju kawasan ini hanya dapat ditempuh dengan jalur udara dengan maskapai terbatas. Tak ada jalur darat yang menghubungkan ibukota kecamatan dengan ibukota Kabupaten Nunukan, apalagi kota lainnya. Mirisnya lagi, masyarakat Long Bawan lebih dekat dengan Malaysia dan sebagian besar barang-barang kebutuhan sehari-hari termasuk Bahan Bakar Minyak, dipasok dari Negeri Jiran tersebut. Sulit menemukan produk made in Indonesia di wilayah ini.

Meski demikian, perekonomian wilayah ini dapat ditunjang oleh sektor pertanian yang berkualitas, seperti padi, tanaman hortikultura, garam dan kerbau. Luas lahan pertanian pangan di wilayah ini berkisar 2.500 hektare ditanami Padi Adan yang terkenal di Kalimantan Timur dan konon merupakan beras makanan utama Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darussalam. Menariknya, warga menanam padi tanpa pupuk kimia, hanya menggunakan pupuk kandang dari kotoran kerbau.

Sejarah Desa Long Bawan

Bukti peninggalan sejarah perjalanan Upai Semaring terhenti di Long Pasia, yakni batu tempat Upai berbaring dan ukiran-ukiran di atas batunya. Sekarang ukiran tersebut dapat dilihat sebagai salah satu peninggalan sejarah, di mana dulunya Upai Semaring menggunakan kekuatan magis untuk mengukir berbagai hal di Sungai Matang. Ukiran Upai dikenal dengan nama Arit Linawa dan Ari Pawad. Masyarakat setempat memuji ukiran tersebut sebab diukir dengan tulus oleh Upai untuk almarhumah istrinya. Namun, ukiran itu tidak sempat diselesaikan karena musuh sudah mendekat, sehingga memaksa Upai melarikan diri dari tempat itu.

Upai melarikan diri ke daerah Bang Pedian, saat ini dikenal dengan Brunei Darussalam. Raja di daerah tersebut suka dengan Upai dan menikahkan anaknya dengan Upai. Hal ini dipercaya oleh orang tua yang masih hidup bahwa suatu hari nanti wakil kerabat Raja Brunei akan melawat keluarganya di Long Bawan. Namun sekian lama di Bang Pedian, Upai mengalami konflik dengan Raja Brunei hingga akhirnya meninggalkan tempat tersebut dan berlayar ke arah Laut Cina Selatan. Ada yang mengatakan kepergian Upai tersebut juga akibat masih teringat dengan almarhumah istrinya. Legenda ini diperkuat dengan adanya kesamaan budaya masyarakat Bang Peian dengan suku asli di Taiwan.