Informasi Wisata di Goa Tampang Allo

Informasi Wisata di Goa Tampang Allo

Tampang Allo merupakan salah satu situs pemakaman tua di Tana Toraja. Lokasinya di Suaya kecamatan Sangalla tidak jauh dari objek wisata kuburan Suaya. Tempat pemakaman ini berupa gua yang berisikan peti mati tua dan tengkorak tengkorak para Bangsawan Toraja. Di dalam gua ini, kita dapat melihat Tau Tau, tengkorak,peti mati yang sudah berumur sekitar 200 tahun. Di dalam gua ini, terdapat dua tengkorak yangdi kuburkan secara bersamaan. Ada cerita tersendiri tentang keberadaan kuburan Tampang Allo.

Gua pemakaman Tampang Allo di Tana Toraja ini dimulai dari keinginan seorang suami istri yang ingin dimakamkan bersama, bernama Puang Manturio dan Rangga Bulaan. Sang suami, Puang Manturino, adalah seorang penguasa Sangalla di abad ke 16 lalu.
Mereka memiliki cinta yang besar satu sama lain sehingga bersikeras untuk dimakamkan dalam satu tempat yang sama, yaitu di Gua Tampang Allo. Umur tak dapat ditebak, ternyata yang meninggal terlebih dahulu adalah sang istri, Rangga Bulaan. Jasadnya langsung dimasukkan ke dalam erong di Tampang Allo
Kepergian Rangga Bulaan membawa duka mendalam bagi Puang Manturino.

Hidup tak sama lagi tanpa separuh nyawanya. Tak lama setelah kepergian Rangga Bulaan, Puang Manturino pun berpulang namun tidak seperti janji sepasang suami istri tersebut, jasad Puang Manturino tidak dimasukkan ke dalam gua Tampang Allo, melainkan dimakamkan di gua Losso, tak jauh dari gua Tampang Allo.

Di sini ajaibnya. Saat meninggal dunia, jasad dimasukkan ke dalam erong (peti mati) sebelum diletakkan di gua. Entah bagaimana caranya, suatu hari erong Puang Manturino ditemukan dalam keadaan kosong. Setelah diperiksa, ternyata jasad Puang Manturino sudah berada dalam erong Rangga Bulaan, dalam keadaan berpelukan, cerita cinta yang terdengar mistis.

Puang Manturino adalah raja Sangalla. Ketika dia tiada, maka harus ada penerusnya. Maka dari itulah muncul Puang Musu sebagai raja Sangalla yang selanjutnya. Tanda kepemimpinannya adalah pusaka kerajaan yang bernama Baka Siroe’. Puang Musu ini pun juga dijadikan sebgaai pimpinan Tongkonan Puang Kalosi.

Di masa pemerintahan Puang Musu, kerajaan Sangalla mendapat serangan dari Kerajaan Bone. Pada saat peperangan berlangsung, sang raja baru, Puang Musu melarikan diri menuju ke Madan dengan melewati sungai Sa’dan. Pada saat itulah Puang Musu bertemu dengan Karasiak.

Ada niat tersembunyi dari Karasiak. Dia menginginkan pusaka kerajaan yang dibawa oleh Puang Musu. Melihat Puang Musu sedang membawa senjata kerajaan, Karasiak berusaha merebut senjata tersebut dengan cara membunuh Puang Musu.

Sejak saat itulah keluarga Puang Musu dan Karasiak tidak pernah berdamai. Tahun 1934 ada niatan untuk berdamai antara keturunan Karasiak dan Puang Musu dengan menikahkan antar keturunan. Mereka pun menjadi satu keluarga dan bersepakat untuk menjadikan gua Tampang Allo sebagai pemakaman keluarga