Informasi Wisata di Museum Batik Danar Hadi

Informasi Wisata di Museum Batik Danar Hadi

Museum Batik Danar Hadi Solo adalah jawabannya. Terletak di jalan Brigjen Slamet Riyadi 261 Surakarta, tepatnya di dalam kompleks Dalem Wuryaningratan. Sebuah kompleks yang dulu merupakan kediaman keluarga K. R. M. H. Wuryaningrat. Beliau adalah menantu dan juga sekaligus pepatih dalem dari raja Kasunanan Surakarta, yakni Pakoe Boewono ke X.

Dalem Wuryaningratan yang berarsitektur Jawa kuno ini dibangun kurang lebih pada abad ke XIX (kira-kira tahun 1890) oleh seorang arsitek Belanda. Meski bernuansa Eropa, tata ruang tetap mengikuti konsep rumah adat Jawa berhalamannya luas. Di tempat inilah Bapak H. Santosa Doellah, Direktur Utama PT Batik Danar Hadi, mendirikan museum batik.

Bapak Santosa Doellah telah merintis usaha Batik Danar Hadi pada 1967 saat berusia 26 tahun. Ketika itu beliau baru menikah dengan Ibu Danarsih yang menjadi istrinya hingga saat ini.

Nama batik Danar Hadi berasal dari dua suku pertama, yakni nama istri dan nama bapak mertua (ayah istri) yang sampai saat ini menjadi merek batik produksi Bapak Santosa. Museum ini dibuka resmi oleh ibu Hj. Megawati Soekarnoputri pada hari Jumat, 20 Oktober 2000 semasa beliau menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Keprihatinan dan obsesi bapak H. Santosa terhadap pelestarian dan pengembangan seni batik serta minimnya apresiasi masyarakat terutama generasi muda melatarbelakangi pendirian museum ini. Berdirinya Museum Batik Danar Hadi memiliki tiga tujuan mulia, yakni untuk melestarikan dan mengembangkan seni batik, menambah sarana pendidikan dan pengetahuan khususnya di bidang seni batik, dan menambah objek wisata di kota Solo yang merupakan kota budaya.

Museum Batik dirancang dengan bentuk bangunan yang disesuaikan dengan arsitektur nDalem Wuryaningratan. Ruangan di dalam museum terbagi menjadi sebelas, yang dipergunakan untuk memajang koleksi batik kuno Bapak H. Santosa Doellah yang terbagi menjadi sembilan jenis batik, sesuai dengan tema dari museum yaitu “Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungan”.

Sembilan jenis batik tersebut meliputi Batik Belanda, Batik Cina, Batik Djawa Hokokai, Batik Pengaruh India, Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Batik Petani, Batik Indonesia dan Batik Danar Hadi. Pemilihan tema dan tata ruang museum tak lepas dari pegalaman dan pengamatan bapak H. Santosa yang sejak usia 15 tahun sudah menekuni, menggeluti dan meneliti seni batik.

Menurut beliau, sehelai wastra (kain) batik pada warna dan polanya akan dipengaruhi oleh zaman atau lingkungannya. Sebagai contoh “Batik Belanda”, batik ini disebut demikian bukan karena berasal dari Belanda, tetapi pola pada batik tersebut dipengaruhi oleh budaya Belanda atau Eropa.

Karena batik-batik ini dibuat sekitar tahun 1840 – 1910 saat Indonesia berada di bawah penjajahan Belanda, sehingga akan dijumpai pola dengan tema cerita “Snow White”, “Little Red Riding Hood”, “Hanzel and Gretel”, dan lain-lain.

Demikian pula dengan jenis “Batik Cina”, bukan dibuat di Cina melainkan mendapat pengaruh dari budaya Cina (Tionghoa). Misalnya pola-pola dengan ragam hias burung Hong (Phoenix Bird), Kelelawar, Kura-Kura, dan ragam hias Banji (seperti Swastika).