Informasi Wisata di Pantai Ngobaran

Informasi Wisata di Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran mungkin masih terdengar asing, karena belum banyak yang mengekspos keberadaannya.Tapi perlu Anda ketahui, pantai ini justru memiliki keistimewaan yang berbeda dari pantai-pantai lain di sebelah timur. Sesuatu yang spesial dari Pantai Ngobaran adalah perpaduan wisata alam dan budaya. Pantai penuh sejarah ini mempunyai bangunan Pura sebagai tempat ibadah umat Hindu dan seringkali diadakan ritual di sana.

Suatu hari, Kerajaan Majapahit diserang oleh Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah, putra dari Raja Prabu Brawijaya V sendiri. Raja Prabu Brawijaya V tidak mau melawan anaknya sendiri, sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri bersama anaknya yang lain, yaitu Bondan Kejawen.

Pelariannya sampai di sebuah pantai yang sekarang kita kenal sebagai Pantai Ngobaran. Di pantai ini, sang Raja tidak menemukan jalan keluar lain. Kemudian ia memutuskan untuk melaksanakan upacara moksa atau ritual pembakaran diri. Pembakaran tersebut menghasilkan kobaran api yang sangat besar, dan dari sinilah asal-usul nama Pantai Ngobaran yang diambil dari kata ‘kobaran’.

Akan tetapi, warga setempat berpendapat bahwa Raja Brawijaya V tidak benar-benar membakar dirinya. Beberapa bukti yang ditemukan berupa tulang-tulang anjing pada puing-puing sisa pembakaran. Tujuan dilakukannya ritual moksa ini untuk memperdayai Raden Patah, sebab sang Raja tidak mau menganut agama Islam.

Pantai Ngobaran yang berada di sebelah barat Pantai Baron ini masih satu deretan dengan Pantai Ngrenehan dan Nguyahan. Tepatnya terletak di Dusun Gebang, Desa Kanigoro, Kecamatan Sapto Sari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jarak dari Kota Yogyakarta berkisar 65 kilometer dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Berbeda lagi bila Anda memulai perjalanan dari Borobudur, Magelang. Waktu tempuhnya menjadi sekitar 3 jam.

Saat menginjakkan kaki di Pantai Ngobaran, Anda akan merasakan nuansa yang ‘berbeda’ dengan adanya perpaduan budaya dan agama yang menjadi satu. Sekitar tahun 2003 lalu, bangunan berupa gapura dan patung-patung simbol agama Hindu dan Budha didirikan. Tujuannya untuk menghormati kedatangan keturunan Raja Brawijaya V di pantai tersebut.Pada akhirnya, bangunan ini pun diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2004.