Informasi Wisata di Pantai Wediombo Jogja

Informasi Wisata di Pantai Wediombo Jogja

Sebagai tempat wisata di Jogja, pantai ini merupakan pantai yang akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan, jadi para wisatawan diharapkan selalu menjaga kelestarian lingkungan. Selain dilarang mengambil terumbu karang, pasir putih, kerang dan juga biota lainnya, pengunjung juga diharapkan menjaga kebersihan di kawasan pantai.

Satu hal yang menarik dari kawasan ini adalah pantai Wediombo merupakan salah satu pantai yang mulai digunakan untuk kegiatan selancar.

Tahun 2014 ini, Wediombo menjadi lokasi penyelenggaraan selancar di DIY. Awal mulanya hanya wisatawan asing yang berselancar, tetapi para penduduk lokal mulai tertarik untuk berselancar sehingga mereka juga mulai belajar selancar.

Wediombo diambil dari bahasa Jawa yakni wedi dan ombo, wedi berarti pasir dan ombo berarti luas. Jadi Wediombo memiliki arti pasir yang luas dan arti ini sesuai dengan kondisi yang dimiliki Pantai Wediombo yang berpasir putih dengan area yang cukup luas, memanjang di bibir pantai.

Selain berpasir putih, Pantai Wedi ombo juga memberikan keunikan pada gugusan karangnya serta pemandangan sunset pada sore hari karena pantai ini menghadap ke barat.

Pantai Wediombo ini terkadang dilakukan upacara adat yakni Upacara Nglalangi yang diadakan setahun sekali guna memohon keselamatan dan berkah yang melimpah. Upacara Nglalangi merupakan prosesi penangkapan ikan dengan menggunakan gawar (alat penangkap ikan tradisional) yang terbuat dari akar pohon wawar.

Upacara ini menjadi menarik karena melibatkan banyak orang di perkampungan nelayan yang berbatasan dengan Pantai Wediombo. Upacara ini mirip Labuhan Besar yang tujuan utamanya yaitu mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan atas anugerah yang dilimpahkan dan memohon rejeki yang lebih baik untuk masa mendatang.

Setelah air surut, ikan-ikan diambil. Warga kemudian sibuk membersihkan dan memasak ikan tangkapan. Sebagian kecil ikan dilabuh lagi ke lautan bersama nasi dan sesaji.

Sebagian besar lainnya dibagi sesuai dengan jumlah keluarga penduduk setempat dan diantar ke rumah-rumah warga. Acara mengantar ikan ke rumah- rumah warga ini sering disebut kendurian besar, wujud kearifan lokal bahwa semua ikan adalah rejeki bersama.